Sejarah Awal . Berdirinya Litindo . Kebutuhan yang mutlak . Tujuan

Tujuan

LITINDO ingin membangun perpustakaan-dasar yang bertanggungjawab, yang terdiri dari buku-buku gereformeerd dalam bahasa Indonesia. Itu berarti bahwa mereka harus memproduksi buku-buku yang meliputi seluruh deretan warna teologia. Dan caranya begitu rupa, sehingga baik para teolog, maupun para penatua dan kaum muda memperoleh manfaatnya. Untuk itu telah disusun sebuah Maket yang menggambarkan Perpustakaan-dasar mengenai Teologia Gereformeerd, yang memperlihatkan bahan-bahan apa saja yang minimal dibutuhkan bagi bermacam-macam tingkat: pendidikan teologia, pembangunan jemaat dan kaum muda. Dengan perpustakaan seperti itu GGRI harus dapat memperoleh bahan-bahan yang terpercaya, guna memperkuat kerangka gereja-gereja itu serta identitas diri sendiri.

Meskipun proyek itu timbul dari GGRI, dan dimulai sebagai proyek untuk GGRI, tetapi dalam pekerjaannya, LITINDO dengan tegas memperhatikan seluruh dunia Kristen di Indonesia. Bukankah tindakan mereka kurang bijaksana seandainya mereka mengeluarkan begitu banyak tenaga dan uang untuk memproduksi buku-buku itu, semata-mata bagi GGRI?! Bukankah GGRI, dengan ke-11.000 anggotanya hanya merupakan titik-titik kecil, yang ditelan oleh wilayah seluas 5.000 km, terdiri dari sekitar 14.000 pulau dengan jumlah penduduknya paling sedikit 200 juta? Lagipula masih ada begitu banyak gereja di negeri ini, yang juga berakar dalam Zending Gereformeerd, di antaranya ada yang berasal dari zaman sebelum Perang Dunia Kedua. Buku-buku keluaran LITINDO dapat sangat membantu dalam menambah kelengkapan gereja-gereja dan orang-orang Kristen yang lain itu di negeri yang maha luas ini.

Sebab itu, kami memutuskan dengan sadar bahwa buku-buku itu tidak hanya kami terbitkan untuk lingkungan sendiri, dan hanya bagi penggunaan intern GGRI. Sebenarnya cara yang kurang baik itulah yang sampai sekarang dilakukan oleh kebanyakan penginjil. Memang, cara kerja begitu lebih cepat, karena kami tidak perlu memenuhi begitu banyak tuntutan pada tingkat bahasa, dan tidak perlu juga kami mengadakan begitu banyak rundingan yang bertele-tele dengan berbagai badan penerbit.Tetapi LITINDO berpendapat bahwa kami tidak boleh merasa puas dengan apa yang minimal diperlukan, betapa besar pun hakiki nilainya. Kami ingin berusaha semaksimal mungkin, dan ingin memberi sumbangan gereformeerd yang positif dalam keseluruhan jerih payah teologia di Indonesia. Dan pada akhirnya hal itu akan membuahkan hasil bagi GGRI, dan menunjukkan dengan lebih baik profil identitasnya sebagai gereja-gereja gereformeerd di Indonesia, serta menambah kekuatannya dengan cara positif.

Sementara itu, ternyata tujuan yang terakhir itu sangat baik dalam praktek, sehingga pada akhirnya itulah yang menjadi tujuan yang pertama dan yang paling penting bagi LITINDO. Pekerjaan LITINDO menciptakan sebuah jaringan yang terdiri dari banyak kontak dan relasi. Sekarang ini makin banyak gereja dan lembaga teologia yang mengundang para dosen/penulis LITINDO untuk mengajar atau mengadakan seminar. Melalui pekerjaan lektur itu berbagai pintu mulai terbuka. Demikianlah Tuhan memperlihatkan banyak kemungkinan kepada kami, kemungkinan yang tidak boleh kami abaikan.

Selain itu, LITINDO ingin menjadikan dirinya bermanfaat bagi setiap tingkat dalam gereja. Pertama-tama untuk para teolog. Dan dalam hal itu secara sadar LITINDO berusaha meraih tingkat yang lebih tinggi daripada tingkat GGRI dewasa ini. Bagi sebagian besar pendeta GGRI, sebuah buku seperti Kristus di Bumi, masih terlalu tinggi jangkauannya. Sedangkan bagi sangat banyak gereja dan para teolog lain di Indonesia tidak demikian halnya. Dan juga dalam buku-buku teologia yang terbit di Indonesia, kritik modern terhadap Kitab Suci dengan segala rincian teknis dari pembelahan sumber-sumber dan hal-hal lain semacam itu, dipercayai begitu saja dan dipropagandakan seakan-akan semestinya begitu. Nah, LITINDO ingin juga menanggapi hal itu di tingkat teologia yang sama tingginya, dengan menghadirkan di situ pendapatnya yang gereformeerd-ilmiah. Juga di bidang produksi lektur teologia, kami ingin menjadi garam dunia.

Tetapi tidak semua buku LITINDO yang diproduksi untuk para teolog ada di tingkat ilmiah yang tinggi itu. Kami telah menerbitkan juga buku-buku pelajaran yang cocok dipakai oleh para mahasiswa teologia dan oleh para pendeta di lingkungan GGRI sendiri.

Di samping itu LITINDO juga memproduksi secara teratur buku-buku yang lebih terarah kepada rangka menengah di gereja. Juga di situ ada kebutuhan yang mendesak akan bahan studi yang baik. Misalnya untuk penelitian Alkitab dalam berbagai perkumpulan gereja. Bahan ajaran untuk kursus-kursus kader dan pembangunan jemaat. Penerangan mengenai bermacam-macam tema etika.

Juga untuk para remaja dan pemuda di gereja, LITINDO ingin mempunyai arti penting. Sampai sekarang yang baru kami hasilkan ialah dua buku untuk Sekolah Minggu, dan Alkitab CeriA yang diterjemahkan dari Kijkbijbel. Karena ketiga pengarang kami adalah teolog, tentu saja tekanannya lebih banyak terletak pada buku-buku teologia. Alangkah baiknya seandainya LITINDO mempunyai kebebasan dana untuk mengikutsertakan dalam timnya seorang ahli pendidikan, yang secara khusus dapat menekuni bagian dari programa itu

kembali ke atas