Sejarah Awal . Berdirinya Litindo . Kebutuhan yang mutlak . Tujuan

Kebutuhan yang mutlak

Orang-orang di Belanda sulit membayangkan adanya kebutuhan mutlak untuk mengadakan proyek lektur seperti LITINDO. Toko-toko buku Kristen di Belanda penuh buku-buku teologia yang membahas segala macam tema. Setiap pendeta memiliki perpustakaan yang sangat lengkap,dan di rumah banyak anggota jemaat pun ada koleksi buku-buku mereka sendiri. Untuk keperluan pekerjaan perkumpulan gereja tersedia bermacam-macam karangan dan ikhtisar. Dan para remaja dapat memilih dengan leluasa dari kumpulan Alkitab anak-anak dan bahan bermutu lainnya. Tetapi keadaan di Indonesia sangat berbeda. Masih banyak buku-buku Alkitab yang belum ada tafsirannya yang baik dalam bahasa Indonesia. Dan meskipun semakin banyak buku-buku teologia yang muncul di pasaran (sebagian besar terjemahan dari bahasa Inggris, Jerman dan Belanda), tetapi hanya sangat sedikit di antaranya yang isinya bersifat gereformeerd. Kenyataan bahwa para pendeta gereformeerd di Indonesia rata-rata hanya memliliki beberapa buku di kamar kerjanya, bukan hanya karena uangnya tidak cukup untuk membelinya (meskipun itu juga salah satu sebab!), tetapi alasan utamanya ialah karena hanya sedikit sekali tersedia buku-buku gereformeerd yang terpercaya. Soalnya, modernisme, teologia liberal dan oikoumenisme telah mempengaruhi gereja-gereja besar di Indonesia.
Pasaran buku-buku teologia sebagian besar ditandai oleh liberalisme dan penekanan sepihak pada pengalaman imani, dan juga oleh kekurangan akan kejelasan yang asasi. Akibat toleransi, yang merupakan ciri khas politik Pancasila Indonesia, yang sebanyak mungkin hendak menghindari atau menyamaratakan perbedaan-perbedaan agama, maka toko-toko buku hanyalah memajang deretan buku-buku yang 'netral,' tanpa warna yang jelas, yang dengan takut-takut berpegang teguh kepada arus-tengah teologia yang besar.