Berdirinya Litindo
LITINDO ialah proyek yang berakar dalam gereja-gereja di Indonesia yang berbagi sinode dengan kami, yakni Gereja-Gereja Reformasi di Indonesia (GGRI). Gereja-Gereja Gereformeerd (dibebaskan) di Belanda (GKV) di Belanda, menjalin relasi yang teguh dengan GGRI. Gereja-gereja ini terbentuk sebagai hasil pekerjaan Pekabaran Injil (Zending) dan juga hasil pelayanan kasih di provinsi-provinsi Papua, Kalimantan Barat dan di pulau-pulau: Sumba, Sabu dan Timor di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sementara itu GGRI sudah dapat disebut mandiri. Mereka telah mendirikan dirikan gereja-gereja di berbagai tempat. Di tingkat regional setiap daerah ada sekolah teologianya. Selain itu secara teratur juga diadakan seminar untuk para pendeta, dan kursus-kursus untuk para pekerja gereja.Di tingkat nasional kontak satu dengan yang lain meningkat. Sekali empat tahun diadakan konferensi resmi yang dihadiri oleh para utusan dari ketiga wilayah tadi.
GGRI kian lama kian menanggung sendiri tanggungjawab atas kehidupan gerejani di wilayah-wilayah itu. Saran-saran pertama untuk menangani masalah organisasi lektur, diajukan oleh konferensi resmi GGRI yang diadakan pada tahun 1987, ketika para utusan ketiga wilayah itu bersama-sama mengungkapkan kebutuhan akan lektur Gereformeerd, dan mendesak supaya secara khusus diterbitkan buku-buku pelajaran dan penjelasan tentang Alkitab, pengakuan iman dan peraturan gereja. Ungkapan itu menimbulkan keinginan kuat pada para penginjil di Indonesia untuk memproduksi lebih banyak buku-buku.
Di tahun 1990 datang usulan dari Papua supaya dua orang pekerja zending berkebangsaan asing yang sudah pulang ke Belanda, diangkat untuk menangani tugas memproduksi buku-buku itu, dan membebaskan mereka dari pekerjaan lain. Sesudah dipertimbangkan matang-matang, dan setelah diedarkan juga angket di kalangan para pekerja Zending yang pernah atau yang masih bekerja di Indonesia, maka pada akhir tahun 1991 semua gereja yang terlibat dalam kepengurusan Zending di Indonesia, mengambil keputusan untuk memulai sebuah proyek guna mengisi kekosongan di bidang lektur teologia di Indonesia. Hal itu dipandang sebagai sambungan pekerjaan Zending dalam pendidikan dan persiapan teologia yang di masa lalu diajarkan melalui kursus-kursus kepada para penginjil dan di Sekolah Teologia Menengah di Waimarangu (Sumba, NTT), Sentagi (Kalimantan Barat) dan Boma (Papua).
Pada 5 November 1992, Komisi Lektur untuk pertama kalinya mengadakan pertemuan. Proyek itu diberi nama: LITINDO, yang merupakan kependekan dari LIteratur Teologia dalam bahasa INDOnesia.