Penyebaran
. Tanggapan-tanggapan
. Kontak
SETIA
Di Jakarta LITINDO menjalin hubungan erat dengan SETIA, Sekolah Tinggi Teologia Arastamar (Arastamar berasal dari nama pohon aras yang digambarkan dalam Mazmur 92). Sekolah itu berhubungan erat dengan STTRII (Sekolah Tinggi Teologia Reformed Injili Indonesia) dan dipimpin oleh Pdt. Matheus Mangentang. SETIA tidak terikat kepada sebuah gereja tertentu. Sekolah itu didirikan oleh yayasan yang terdiri dari beberapa orang swasta yang berkeinginan agar suara Kitab Suci dapat terdengar dengan kuat dan nyaring di seluruh Indonesia yang sangat luas itu, dengan mengutamakan kelangsungan pemberitaan Injil di daerah-daerah pedesaan di Indonesia, tempat tinggal sekitar 70% dari seluruh penduduk.

SETIA, Pdt. Mangentang
Sebab itu, mereka sengaja memilih tempat bagi kampus SETIA di tengah-tengah sebuah kampung (Muslim) di pinggiran kota, supaya tidak terlalu membiasakan para mahasiswa yang datang dari segala pelosok Indonesia kepada kehidupan kota besar. Di antara para mahasiswa itu ada juga beberapa orang yang berasal dari GGRI (NTT dan Kalimantan). Di tahun 1999 seorang anggota staf sekolah itu pergi ke Belanda, dan mengikuti kursus IRTT. Pada akhir tahun itu SETIA mengajukan permintaan resmi untuk dikirimi dosen-dosen teologia. Permintaan itu berbunyi sebagai berikut: "Berkat kemurahan Tuhan, maka kami datang kepada Anda, Gereja-Gereja Gereformeerd di Belanda, dengan permohonan kerjasama, khususnya dalam wujud pemberian dosen-dosen untuk mata pelajaran Bibliologi, Dogmatika, Misiologi, Etika dan Sejarah Gereja. Kami memberi tahu sebagai informasi untuk Anda, bahwa sudah beberapa kali para pendeta/ pelayan LITINDO yang tergabungdengan gereja-gereja Anda mengunjungi kampus kami, dan selain itu seorang dari rekan anggota staf kami tahun lalu mengikuti kursus IRTII Anda di Belanda. Berdasarkan hal itu kami sungguh berkeinginan, demi kemajuan pekerjaan Tuhan di Indonesia, bahwa dapat terealisasi kerjasama dengan Gereja-Gereja Gereformeerd di Belanda." Mereka minta tidak kurang dari lima orang dosen.

Pdt. Venema dengan beberapa dosen SETIA
Permohonan yang duajukan oleh sekolah yang memiliki sekitar 700 mahasiswa, dan kira-kira 40 dosen (paruh-waktu) tentu saja terarah kepada globalisasi. Dan mengapa tidak! Sejak awal Gereja Kristus ditempatkan oleh Kristus sendiri pada jalan globalisasi ini. Tetapi yang lebih ditekankan oleh SETIA ialah upaya untuk menambah kekuatan identitas gereformeerdnya: "Dalam permohonan akan pengiriman para dosen dari Belanda itu kami mendahulukan pendidikan teologia Reformasi. Konsolidasi pendidikan itu kami anggap sebagai tujuan yang paling penting dalam kerjasama kami, supaya para calon-hamba Tuhan dapat belajar membeda-bedakan dan memerangi hakiki ajaran sesat." Gereja-gereja yang bekerja sama dalam Komisi Diskusi menyambut permohonan itu secara positif, dan bersama-sama dengan dewan pimpinan SETIA, mereka menyusun rencana bertahap, yang pada tingkat pertama terdiri dari pengutusan dua dosen untuk periode percobaan selama dua tahun. Pdt. Venema ternyata bersedia untuk pindah ke Jakarta selama beberapa tahun. Dengan demikian sejak musim gugur tahun 2000 dia dipinjamkan oleh LITINDO kepada proyek itu. Di situ dia mengajar kepada sebagian dari para mahasiswa. Di samping itu, setiap minggu dia memberi juga kursus kepada para anggota staf dan dosen tetap, dan memberi mereka pengenalan yang mendalam mengenai teologia reformasi. Berdasarkan ketiga sola Reformasi (Sola Scriptura hanya karena Kitab Suci; Sola Gratia hanya karena anugerah; Sola Fide hanya karena iman) maka berbagai pokok pembicaraan dibahas secara berturut-turut. Melalui kursus pembentukan kepada para anggota staf ini maka secara tidak langsung seluruh persekutuan sekolah terjangkau. Juga melalui penyusunan kurikulum yang baru, Pdt. Venema dapat memberi banyak pengaruh terhadap isi rencana pengajaran itu supaya sesuai dengan ajaran gereformeerd.

Di bagian dalam kampus SETIA
Karena dosen yang kedua belum berhasil ditemukan, maka tahun lalu SETIA bekerja secara estafet yang melibatkan dosen-dosen tamu, yang masing-masing mengajar selama enam minggu. Di musim gugur tahun 2002 sebuah deputasi gereja-gereja yang bekerjasama telah berkunjung ke Jakarta untuk mengevaluasi proyek itu. Berdasarkan laporan mereka, akan ditinjau apakah bantuan kepada SETIA dapat dilanjutkan, dan seandainya memang bisa dilanjutkan, bagaimana bentuk bantuan itu. Bagaimana pun, kini sudah jelas bahwa proyek yang lahir sebagai buah pekerjaan LITINDO, juga telah banyak membantu dalam mengharumkan nama LITINDO, dan ikut menyebarluaskan buku-buku kami. Melalui kehadiran tetap Pdt. Venema di Jakarta, dapat terjalin berbagai kontak yang dapat dikembangkan lebih jauh. Tetapi khususnya juga karena buku-buku LITINDO termasuk dalam kurikulum baru di sekolah itu, maka dalam jangka waktu tertentu buku-buku itu dapat disebarluaskan ke semua daerah di mana para mahasiswa SETIA akan melayani di masa mendatang!
kembali ke halaman tadi
kembali ke atas