Tanggapan-tanggapan
Pdt. Dara Hae Doko, rektor Sekolah Teologia Menengah di Waimarangu (Sumba, NTT), mengatakan tentang arti penting LITINDO bagi masa depan GGRI: "Buku-buku Litindo menjadi sahabat kami di masa depan. Pada suatu waktu Anda sekalian, para penginjil, akan pergi, lalu kami ditinggal sendiri. Tetapi buku-buku LITINDO, akan tetap bersama kami, dan akan menjadi sahabat yang setia di masa mendatang..." Siapa yang mengarang, akan tetap dikenang!
Dari Persatuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) kami menerima surat di mana mereka menyatakan bahwa keempat jilid tadi "sangat sesuai sebagai pedoman dalam sinode/gereja untuk memingkatkan pelayanan para pekerja gereja, dan juga untuk mengatur administrasi bagi semua kegiatannya secara lebih baik. Bahan-bahannya yang tersusun dengan baik, bersifat informatif, dan sungguh memenuhi apa yang justru kami butuhkan." Biasanya kami menerima tanggapan yang positif mengenai isi buku-buku kami. Dalam tanggapan itu selalu dikatakan bahwa isi buku-buku itu langsung mengacu kepada Alkitab. Di salam buku-buku itu tidak diberitakan pendapat-pendapat manusia, dan Alkitab tidak dipakai untuk membenarkan pendapat-pendapat manusiawi itu. Justru sebaliknya: Alkitab ialah titik tolaknya dan juga titik perbandingannya. Tanggapan itu sangat bagus, yang dengan tepat mencerminkan keinginan LITINDO, yaitu membiarkan Alkitab berbicara sendiri.
LITINDO menerima tanggapan-tanggapan dari berbagai pendidikan teologia di Indonesia. Yang ditanyakan ialah apakah jilid kedua (yang sudah diumumkan) sudah terbit; tampaknya sekolah-sekolah itu sudah mencatat jilid yang pertama pada daftar tentamen para mahasiswa. Sekolah-sekolah tinggi lain bertanya apakah LITINDO tidak dapat singgah setiap tahun untuk memberikan serangkaian kuliah sebagai dosen tamu.