Para Deputat Zending Groningen

Di tahun-tahun 50-an, tidak lama sesudah terjadinya Pembebasan, Gereja- Gereja Gereformeerd (yang dibebaskan) mulai lagi menangani pekerjaan zending di Indonesia. Dalam kerjasama dengan Enschede-Utara dan (kemudian) dengan Spekenburg-Selatan, maka dari Groningen dibuka lapangan zending baru di Papua, di sebelah selatan.

Sejak saat itu sudah banyak sekali hal yang berubah. Para penginjil memasuki hutan belantara untuk menemui orang-orang yang belum pernah melihat orang kulit putih. Para penginjil itu harus belajar berkomunikasi dalam bahasa suku yang tidak ada catatan mengenai tata bahasanya, dan harus pula berusaha menghilangkan rasa takut dan rasa permusuhan penduduk terhadap mereka. Dewasa ini sudah ada gereja-gereja pribumi, yaitu GGRI, dan di samping pekabaran Injil ada juga usaha nyata untuk memberi pendidikan lanjutan kepada para penginjil dan pendeta.

Setelah baru-baru ini diadakan tinjauan-ulang terhadap pekerjaan di antara berbagai lembaga pengutus di kalangan Gereja-Gereja Gereformeerd, maka gereja-gereja dalam klasis Groningen tidak campur tangan lagi secara langsung dengan pekerjaan di Papua. Hal itu sekarang diurus oleh gereja-gereja di Overijssel (deputat-deputat Zending Overijssel) dan gereja-gereja yang bekerjasama dengan gereja di Middelburg (di daerah Sinode Partikelir Zeeland, Noord-Brabant dan Limburg). Sekarang gereja-gereja di Groningen diberi kepercayaan untuk mengurus LITINDO.

Para anggota:

J. Beeftink (bendahara)
D.J. van der Woude (ketua)
D. Werkman (sekretaris)
ir. A.A. van den Berg-Zwarteveen
A. Helder
G.H.G. Douma (notulis) 
Pdt. A. van der Sloot   

kembali ke atas