Pdt. J. Th. Jonkman
Perkenankanlah saya memperkenalkan diri:
Nama saya Johannes Theodoor Jonkman. Saya lahir di Groningen (kotanya) pada hari Jumat tanggal 13 Januari 1950. Dari 1956 sampai 1960 saya bersekolah di Hendrik de Cockschool, dan dari 1960 sampai 1962 di Dr. K. Schilderschool.
Mulai 1962 sampai 1968 saya menjadi siswa Gereformeerd Lyceum di Groningen. Sejak periode itu saya kenal dengan H.G. Gunnink, yang sekarang ini rekan sekerja saya di jemaat gereja Hardenberg-Pusat dan juga di LITINDO sebagai ketua Dewan Redaksi. Di klas 3 gymnasium kami duduk sebangku. Setelah saya lulus ujian negara gymnasium tanggal 1968, saya belajar di Sekolah Tinggi Teologia di Kampen. Pada hari Senin tanggal 9 September 1968, saya naik sepeda bersama Gunnink dari Groningen ke Kampen. Di sana kami belajar sampai musim panas tahun 1972, dan mulai awal 1970 kami bahkan tinggal di flat mahasiswa yang sama. Sekembalinya kami ke Groningen, kami tinggal lagi berdekatan. Gunnink menyelesaikan sudinya dengan cepat, sedangkan saya sendiri memerlukan waktu yang jauh lebih lama. Baru pada tanggal 1 April 1977 saya lulus ujian sarjana muda. Alasan mengapa saya memerlukan waktu yang begitu lama untuk menyelesaikan studi itu ialah a.l. karena saya memberi pelajaran katekisasi di Wetsinge-Sauwerd dan Winschoten. Sejak musim panas 1973, tugas itu masih ditambah dengan pemberian pelajaran agama di Johannes Kapteyn-mavo di Groningen, dan sejak 1976 saya juga mengajar agama di Gereformeerd Lyceum dan di Geref. Kweekschool 'Albertus Zijlstra' di Groningen. Setelah lulus ujian sarjana muda, saya menjadi guru agama-dan sosiologi yang bekerja purna-waktu di Geref. Lyceum di Groningen. Di samping itu saya memberi katekisasi di Groningen-Utara, Onnen (Gr.), Zuidwolde (Gr.) dan Groningen-Timur.
Pada tahun 1982 gereja di Drachten mengumumkan adanya lowongan kerja di Indonesia untuk mengisi jabatan Pdt. G.E, Geerds, yang tidak kembali ke Indonesia. Pada waktu itu mereka membutuhkan seorang pengajar dan seorang teolog, dan saya dianggap sesuai untuk pekerjaan itu. Dengan demikian, sejak 1983 saya ditugaskan oleh Drachten dan gereja-gereja Friesland untuk bekerja di Kalimantan Barat di Indonesia. Rasanya seperti baru kemarin saya mulai bekerja di sana. Saya berangkat ke Kalimantan Barat pada tahun 1983, dan di sana saya bertemu dengan Pdt. A.A. van Essen pada waktu bersamaan dengan keluarga Gunnink. Tetapi sebulan kemudian keluarga Gunnink harus pulang ke Belanda. Awal tahun 2000 saya sendiri pulang ke Belanda, setelah menghabiskan waktu lebih dari 16 tahun di Kalimantan Barat, di mana saya bekerja, tinggal dan hidup dengan sukacita. Tetapi sayangnya, juga hal-hal yang menyenangkan akan berakhir pada suatu saat. Menjadi penginjil juga berarti bahwa kita harus dapat membuat diri kita tidak dibutuhkan lagi, dan tidak menjadikan diri kita mutlak diperlukan. Menjadi penginjil berarti juga bahwa orang-orang yang telah kita didik, dapat menangani sendiri tugas- tugas gereja, dan mau memikul tanggungjawabnya. Untunglah bahwa saya tidak sekaligus dilepaskan sama sekali dari gereja-gereja yang telah lahir di Kalimantan Barat Soalnya, gereja pengutus di Drachten membuat peraturan, yang memungkinkan saya tetap menyediakan 50% dari waktu saya untuk pekerjaan zending di Kalimantan Barat, sedikitnya sampai dengan tahun 2005, kalau Tuhan mengizinkan. Sepanjang tahun saya membina gereja-gereja di sana dari jauh, yaitu dari Belanda, dan dua kali setahun dari dekat, di Kalimantan Barat, di bidang pendidikan, pembentukan kader dan keuangan.
Di antara segala 'urusan zending' itu, 50% selebihnya dari waktu saya, sejak September 2000, saya sediakan untuk melayani Gereja Gereformeerd di Hardenberg-Pusat sebagai 'gembala dan guru'. Sejak tahun 2000 saya terlibat dalam pekerjaan LITINDO sebagai penasihat Dewan Redaksi.