Para penulis
Ketika pada tahun 1991 Pdt. G. Riemer habis masa kerjanya di Indonesia, dan pulang ke Belanda, gereja pengutusnya di Enschede-Utara memberi kesempatan kepadanya untuk tetap bekerja di bidang produksi lektur. Mula- mula diperkirakan bahwa untuk itu hanya diperlukan periode dua tahun, tetapi segera terbukti bahwa untuk pekerjaan semacam itu harus diperhitungkan periode-periode yang lebih lama. Tahun 1992 masa kerja Pdt. H. Venema di Indonesia juga habis, dan dia pulang ke Belanda. Dan gereja pengutusnya (Groningen-Utara) juga memutuskan untuk memakai tenaganya dalam pekerjaan lektur LITINDO.
Pada tahun 1994 Pdt. J.P.D. Groen pulang ke Belanda dari masa kerjanya di Irian Jaya. Atas permintaan kuratorium Sekolah Menengah Teologia di Boma, dia diberi waktu oleh gereja pengutusnya, Enschede-Utara, untuk menyelesaikan sejumlah proyek-penulisan. Ketika dia masih sibuk melakukan tugas itu, LITINDO memutuskan setelah berunding lama, untuk menambah anggota tim para penulis dari dua menjadi tiga orang, dengan demikian Pdt. Groen masuk juga dalam proyek itu.
Meskipun ketiga pengarang LITINDO itu semuanya menimba pengalaman mereka di Papua, tetapi karena mereka sudah beberapa kali mengadakan perjalanan dinas ke Kalimantan dan Sumba/NTT, mereka dapat cepat menyesuaikan diri dalam situasi di wilayah-wilayah itu. Dengan demikian mereka kian lama kian 'lepas' dari Papua, dan sekarang mereka sepenuhnya bekerja untuk GGRI yang mereka layani bersama.
Setelah diadakan tinjauan-ulang atas tugas-tugas Zending, semua pengarang LITINDO dinyatakan bekerja di bawah GZD. Sesuai Peraturan Gereja Gereformeerd, para pendeta tidak dapat bekerja di bawah Badan Deputat, tetapi harus terikat kepada sebuah gereja setempat, maka para pendeta yang merangkap pengarang itu dimasukkan dalam Gereja Gereformeerd di Onnen, salah satu gereja di klasis Groningen. Para pengarang merangkap dosen yang telah diangkat oleh LITINDO, menerjemahkan, menyunting, mengoreksi atau menulis buku-buku yang telah dipilih menurut rencana-kerja proyek itu. Mereka melakukannya setelah berunding dengan Dewan Redaksi, yang juga harus menerima laporan mereka setiap triwulan. Setiap tahun mereka mengadakan perjalanan dinas ke Indonesia yang berlangsung maksimal tujuh minggu. Di tempat yang mereka kunjungi, mereka mencatat lektur yang dibutuhkan di situ. Mereka juga menguji-coba bahan yang sedang mereka tulis, dan mengurus penerbitan naskah-naskah yang sudah siap-cetak. Ada kalanya buku-buku itu mereka peruntukkan bagi kalangan sendiri. Selanjutnya mereka mempromosikan buku-buku yang sudah terbit, dan giat mengusahakan penyalurannya di Indonesia. Setelah berunding dengan Komisi Penerangan GZD, mereka memberi penerangan tentang pekerjaan mereka, khususnya kepada gereja-gereja di lingkungan klasis Groningen.