Organisasi . Tempat kerja . Metode . Perjalanan dinas

Metode

LITINDO bukan suatu bentuk bantuan yang oleh gereja-gereja Belanda diberikan kepada gereja-gereja Indonesia, tanpa diminta. LITINDO adalah proyek kerjasama antara GGRI Indonesia dan gereja-gereja di Belanda yang ada di bawah satu sinode. Kerjasama itu berdasarkan pandangan alkitabiah yang sehat. Memberi bantuan satu kepada yang lain, itulah ciri khas umat Allah.

Sebab itu pada awal proyek, GGRI ditanyai mengenai keinginan-keinginan mereka yang khusus, dan dengan urut-urutan prioritas manakah keinginan itu perlu diwujudkan. Pertanyaan-pertanyaan itu terutama berkaitan dengan kalangan dosen yang mengajar pada ketiga sekolah regional di dalam gereja-gereja itu: yaitu di Waimarangu (Sumba), Sentagi (Kalimantan) dan Boma (Papua).

Dalam konferensi resmi GGRI, yang diadakan di Sumba November 1991, para peserta menyusun daftar prioritas yang diminta oleh Belanda mengenai buku-buku pelajaran teologia yang harus diterjemahkan. Dalam konferensi itu tampak jelas bahwa seluruh peserta sangat mendukung proyek itu, dan berharap bahwa pekerjaannya segera dimulai. Dalam beberapa konferensi sesudah itu, daftar itu berkali-kali diubah susunannya dan ditambah di mana diperlukan.

Pengamatan pasaran

Untuk setiap judul buku yang dicatat oleh GGRI dalam daftar keinginannya, kami lebih dahulu mengadakan penelitian untuk mengetahui apakah tentang tema tersebut sudah ada terbitan dalam bahasa Indonesia, dan kalau ada, apakah isinya memenuhi segala tuntutan kami. Demikianlah tercatat sebagai nomor satu dalam daftar tahun 1991: Encyclopedia Alkitab seperti New Bible Dictionary yang disusun oleh Douglas.
Ternyata buku itu sedang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, dan naskahnya sudah siap-cetak. Yang menjadi masalah ialah bahwa penerbitnya belum mengumpulkan cukup dana untuk menerbitkannya. Lalu LITINDO memutuskan untuk membantu membiayai penerbitan buku itu. Tetapi sementara itu sang penerbit sudah berhasil menemukan sponsor yang lain, sehingga sumbangan kami tidak diperlukan lagi. Tetapi yang jelas ialah bahwa proyek pertama pada daftar itu dapat kami coret.

Menerjemahkan

Kalau sudah dipastikan bahwa di pasaran buku Indonesia, memang belum ada buku berisi tema yang diinginkan itu, yang dapat disebut gereformeerd,maka langkah berikutnya yang kami ambil ialah mencari buku yang berbahasa Belanda atau Inggris yang berisi tema itu, dan yang cocok untuk diterjemahkan.

Contoh mengenai proyek terjemahan seperti itu ialah buku karangan Prof. Dr. J. van Bruggen "Christus op aarde' (Kristus di Bumi). Dan sekarang ini sedang dikerjakan 'Proces om de volken' (ds. C. van den erg). Pekerjaan menerjemahkan dilakukan di Indonesia, oleh orang yang enguasai bahasa Belanda dengan baik. Soalnya, bagi kami sendiri bahasa Indonesia tetap merupakan bahasa asing! Tugas kami terbatas pada penyuntingan terjemahan itu dengan seksama, untuk memastikan bahwa maksud sang pengarang mengenai segala bagian buku itu telah disampaikan dengan benar. Pada buku seperti 'Christus op aarde,' penyuntingan itu merupakan tugas yang sangat berat. Lagipula segala perubahan yang kami usulkan, harus diteliti lagi apakah bahasa Indonesianya sudah betul.

Mengolah

Hanya sedikit buku yang bisa diterjemahkan dengan mudah. Sering sekali isi buku-buku itu harus juga disesuaikan dengan situasi di Indonesia. Misalnya, orang yang dalam eksegese Kejadian 3 tidak mengingat kenyataan bahwa penduduk Papua sangat menghormati bermacam-macam pohon di hutan yang menurut mereka dihuni oleh roh-roh, akan menimbulkan kebingungan. Soalnya, pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu akan langsung mereka samakan dengan sebuah pohon yang dikuasai iblis. Contoh yang lain: kalau dalam menceritakan kisah tentang wanita Sunem, kita mengabaikan peraturan di Papua, bahwa wanita yang menghidangkan makanan bagi seorang pria yang bukan suaminya, ingin melakukan perselingkuhan, membuka kemungkinan bahwa kisah itu akan ditafsirkan sendiri oleh pada pendengar secara keliru. Hal itu bukan hanya berlaku pada eksegese. Kalau dalam membahas ajaran iman, kita tidak memperhatikan agama-agama di Indonesia, maupun agama-agama suku dengan segala apa yang berhubungan dengannya, kita pasti akan mengalami kegagalan. Kadang-kadang ada buku yang pada garis besarnya cocok untuk diterjemahkan, tetapi kita masih harus mengolahnya untuk dapat sesuai dalam konteks Indonesia. Pekerjaan seperti itu tidak mungkin diserahkan kepada pihak lain; paling-paling kami menyuruh seorang membuat terjemahan yang bersifat konsep, yang kemudian kami periksa dan olah dengan teliti. Itulah yang misalnya kami lakukan dengan buku 'De Bijbel is geen puzzelboek' (ds. Tj. Boersma). Dalam mengolah buku itu, Pdt. Riemer telah memasukkan situasi dan literatur Indonesia di dalamnya, sehingga buku itu juga ikut berbicara dalam diskusi teologia di Indonesia. Hal yang sama telah dilakukan oleh Pdt. Groen dengan buku 'Wie maakte de Bijbel?' (Prof Dr. J. van Bruggen).

Mengarang

Kalau kami tidak menemukan buku yang dapat diterjemahkan, dan bahkan juga tidak ada yang dengan penyesuaian yang diperlukan dapat dibuat cocok untuk masyarakat Indonesia, maka tidak ada jalan lain kecuali mengarang sebuah buku sendiri. Khususnya di bidang etika, dengan sendirinya harus diberikan bahan yang konkret, yang secara terus terang membahas situasi sendiri dalam konteks Indonesianya. Tetapi hal yang sama berlaku juga bagi bermacam-macam buku pedoman teologia.
Demikianlah Pdt. Riemer menulis sebuah buku pegangan tentang Ilmu Liturgi. Tentu saja dia bersyukur karena dapat menggunakan apa yang telah ditulis oleh para tokoh seperti Dr. K. Deddens, Pdt. G. van Rongen dan Prof. Dr. C. Trimp tentang tema itu. Tetapi hasilnya ialah buku yang baru sama sekali, yang khusus ditulis untuk gereja-gereja Indonesia. Dalam praktek, para pengarang LITINDO menghabiskan sebagian besar dari waktu mereka untuk menekuni pekerjaan itu.

Koreksi

Dan kalau pada akhirnya sebuah konsep buku sudah siap dicetak, kami belum dapat merasa lega, sebab kemudian tibalah tahap yang terakhir: berusaha supaya buku itu diterbitkan di Indonesia. Kami harus mencari badan penerbit yang bersedia mencetak buku itu. Dan kalau orang itu sudah ditemukan, maka biasanya dia lebih dahulu membaca-baca naskahnya untuk mengetahui apakah bahasa Indonesianya benar. Lalu perubahan-perubahan yang diusulkannya, tentu saja harus dirundingkan lagi. Setelah itu kami harus membaca cetakan percobaannya, berunding tentang ilustrasinya dan tentang sampul bukunynya... Pendek kata, kami harus menjalani suatu tahap yang memerlukan banyak waktu, perhatian dan kesabaran!

kembali ke atas