Home / Berita / Meditasi

Meditasi

Introspeksi, menurut ukuran iman


Tanggal: 9-09-2011

Penulis: Jan Boersema


Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing (Rom. 12:3).

 

Memandang muka sendiri dalam cermin, kebanyakan orang menyukainya. Mungkin beberapa orang membenci cermin, karena tidak senang dengan rupa sendiri, namun kebanyakan orang tidak demikian, dan suka melihat ciri-cirinya sendiri.

Penting juga adalah melihat ke dalam diri pribadi: introspeksi namanya. Memikirkan dirinya, menelaah diri pribadi, mawas diri. Paulus mengajak kita untuk tetap berintrospeksi, untuk kepentingan diri sendiri dan untuk kepentingan jemaat, dengan satu ukuran saja: iman.

Paulus memesan saudara-saudaranya untuk berintrospeksi, demi kemurahan Allah, dan berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadanya. Kata ‘kemurahan’ telah menjadi kata kunci dalam uraian Paulus tentang orang Israel, fasal 9-11. Orang-orang Kristen di Roma, yang asalnya bukan Yahudi, telah memperoleh kemurahan oleh ketidaktaatan orang Yahudi.  Oleh sebab Israel telah menolak Kristus, maka Allah berbalik kepada bangsa-bangsa lain. Karena itu, sangat wajar kalau kita berintrospeksi dan menyadari betapa banyak yang dilakukan Allah untuk kita. Begitu Paulus sendiri menyadari betapa besar anugerah Allah kepada dirinya pribadi. Allah telah memanggilnya, padahal justru dia yang adalah seteru Kristus.

Ajakan untuk berintrospeksi menyusul nasihat untuk mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Itulah ibadah yang sejati (ay.1). Patut  kita berikan kepada Allah milik kita yang terbaik, dan karunia kita yang terbaik: sebab ibadah yang sejati adalah demikian. Ibadah yang sejati adalah ibadah yang dilakukan dengan penuh kesadaran, dan dengan pikiran yang matang.

Pada waktu Perjanjian Lama, apabila orang yang beribadah datang menyembah dengan membawa korban bakaran, mereka memilih dari kawanan miliknya hewan yang terbaik, tanpa cacat. Kini anggota  jemaat Kristus membawa dirinya sendiri sebagai korban. Tetapi sesudah itu, jangan menjadi sombong  atau merendahkan anggota lain. Misalnya jika kita bertekad untuk membangun jemaat dengan strategi kita dan kekuatan kita, jangan kita berpikir bahwa anggota yang lain tidak sehebat itu. Kalau begitu, ukuran yang kita pakai bukan iman, tetapi percaya diri.

Paulus menulis tentang ukuran iman yang diberikan Allah kepada orang masing-masing. Maksudnya bukan bahwa yang seorang lebih kuat dalam iman daripada yang lain. Iman kita justru sangat lemah jika kita membandingkan dan menilai. Iman yang kuat bertolak dari keyakinan bahwa kita hidup dari kasih karunia Kristus. Tentulah iman seseorang dipengaruhi oleh wataknya dan pengalaman hidupnya. Semuanya itu diatur Allah, yang memberikan karunia yang berbeda-beda dan memimpin hidup manusia masing-masing dengan cara yang berbeda.  Tetapi inti hidup Kristen adalah keyakinan bahwa semuanya itu diterima berdasarkan kasih karunia, dan tidak diperoleh dengan jasa apapun.

Tidak sulit untuk memperpanjangkan daftar karunia yang disebut Paulus:  Jika berkarunia untuk mengarang buku-buku Kristen, hendaklah ia mengarang. Jika berkarunia untuk menerjemahkan , hendaklah ia menerjemahkan. Perlu kita menyadari bahwa  semuanya itu juga kasih karunia. Lalu berintrospeksi: apakah tujuan kegiatan kita: untuk membesarkan nama Tuhan, atau berfokus pada diri sendiri?

Rasul Paulus sendiri telah belajar dari kerajinannya yang salah dan kefanatikannya yang bodoh. Ia berpesan agar kita jangan memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kita pikirkan. Berarti bahwa semuanya yang direncanakan di luar Kristus sudah dapat dikatakan salah. Kalau kita tidak mau menyadari ketergantungan kita dari kasih Kristus, pasti kita akan menyeleweng dan berakhir dalam hidup yang sombong tetapi kosong. Tetapi bekerja bersama Kristus dan Roh-Nya menghasilkan hidup yang berbuah dan yang berkenan kepada Allah.

 

Pdt. J.A. Boersema